Jumat, 06 Januari 2012

E. Peristiwa Tragedi Nasional G 30 S/PKI Tahun 1965

1. Kondisi Politik Menjelang G 30 S/PKI
Doktrin Nasakom yang dikembangkan oleh
Presiden Soekarno memberi keleluasaan PKI untuk
memperluas pengaruh. Usaha PKI untuk mencari
pengaruh didukung oleh kondisi ekonomi bangsa
yang semakin memprihatinkan. Dengan adanya
nasakomisasi tersebut, PKI menjadi salah satu kekuatan
yang penting pada masa Demokrasi Terpimpin bersama
Presiden Soekarno dan Angkatan Darat.
Untuk melancarkan kudeta, maka PKI membentuk
Biro Khusus yang diketuai oleh Syam Kamaruzaman. Biro
Khusus tersebut mempunyai tugas-tugas berikut.
a. Menyebarluaskan pengaruh dan ideologi PKI ke dalam
tubuh ABRI.
b. Mengusahakan agar setiap anggota ABRI yang
telah bersedia menjadi anggota PKI dan telah
disumpah dapat membina anggota ABRI lainnya.
c. Mendata dan mencatat para anggota ABRI yang telah
dibina atau menjadi pengikut PKI agar sewaktuwaktu
dapat dimanfaatkan untuk kepentingannya.

Memasuki tahun 1965 pertentangan antara PKI dengan Angkatan
Darat semakin meningkat. D.N. Aidit sebagai pemimpin PKI beserta
Biro Khususnya, mulai meletakkan siasat-siasat untuk melawan
komando puncak AD. Berikut ini siasat-siasat yang ditempuh oleh
Biro Khusus PKI.
a. Memojokkan dan mencemarkan komando AD
dengan tuduhan terlibat dalam persekongkolan
(konspirasi) menentang RI, karena bekerja sama
dengan Inggris dan Amerika Serikat.
b. Menuduh komando puncak AD telah membentuk
“Dewan Jenderal” yang tujuannya menggulingkan
Presiden Soekarno.
c. Mengorganisir perwira militer yang tidak
mendukung adanya “Dewan Jenderal”.
d. Mengisolir komando AD dari angkatan-angkatan
lain.
e. Mengusulkan kepada pemerintah agar membentuk
Angkatan Kelima yang terdiri dari para buruh dan
petani yang dipersenjatai.

2. Seputar Penculikan Para Jenderal AD, Usaha Kudeta,
dan Operasi Penumpasan

Peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira
AD, kemudian dikenal Gerakan 30 S/PKI. Secara rinci para pimpinan
TNI yang menjadi korban PKI ada 10 orang, yaitu 8 orang di Jakarta
dan 2 orang di Yogyakarta. Mereka diangkat sebagai Pahlawan
Revolusi. Berikut ini para korban keganasan PKI.
a. Di Jakarta
1) Letjen Ahmad Yani, Men/Pangad.
2) Mayjen S.Parman, Asisten I Men/Pangad.
3) Mayjen R. Suprapto, Deputi II Men/Pangad.
4) Mayjen Haryono, M.T, Deputi III Men/Pangad.
5) Brigjen D.I. Panjaitan, Asisten IV Men/Pangad.
6) Brigjen Sutoyo S, Inspektur Kehakiman/Oditur Jendral TNI
AD.
7) Lettu Piere Andreas Tendean, Ajudan Menko Hankam/
Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
8) Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun, Pengawal rumah Wakil
P.M. II Dr. J. Leimena.
b. Di Yogyakarta
1) Kolonel Katamso D, Komandan Korem 072 Yogyakarta.
2) Letnan Kolonel Sugiyono M., Kepala Staf Korem 072
Yogyakarta.

Jenderal Nasution berhasil meloloskan diri. Akan
tetapi putrinya Ade Irma Suryani tertembak yang
akhirnya meninggal tanggal 6 Oktober 1965, dan salah
satu ajudannya ditangkap. Ajudan Nasution (Lettu
Pierre A. Tendean), mayat tiga jenderal, dan tiga jenderal
lainnya yang masih hidup dibawa menuju Halim.
Pagi hari sekitar jam 07.00 WIB Letkol Untung
berpidato di RRI Jakarta. Dalam pidatonya, Letkol
Untung mengatakan bahwa “Gerakan 30 September”
adalah suatu kelompok militer yang telah bertindak
untuk melindungi Presiden Soekarno dari kudeta.
Kudeta itu direncanakan oleh suatu dewan yang
terdiri atas jenderal-jenderal Jakarta yang korup yang
menikmati penghasilan tinggi dan menjadi kaki
tangan CIA (Agen Rahasia Amerika).

3. Penumpasan G 30 S/PKI
Pada tanggal 2 Oktober 1965 Presiden Soekarno memanggil
semua panglima angkatan ke Istana Bogor. Dalam pertemuan
tersebut Presiden Soekarno mengemukakan masalah penyelesaian
peristiwa G 30 S/PKI. Dalam rangka penjelasan G 30 S/PKI, presiden
menetapkan kebijaksanaan berikut.
a. Penyelesaian aspek politik akan diselesaikan sendiri oleh
presiden.
b. Penyelesaian aspek militer dan administratif diserahkan kepada
Mayjen Pranoto
c. Penyelesaian militer teknis, keamanan, dan ketertiban
diserahkan kepada Mayjen Soeharto

4. Dampak Sosial Politik dari Peristiwa G 30 S/PKI
Berikut ini dampak sosial politik dari G 30 S/PKI.
a. Secara politik telah lahir peta kekuatan politik baru yaitu tentara
AD.
b. Sampai bulan Desember 1965 PKI telah hancur sebagai
kekuatan politik di Indonesia.
c. Kekuasaan dan pamor politik Presiden Soekarno memudar.
d. Secara sosial telah terjadi penangkapan dan pembunuhan terhadap
orang-orang PKI atau”dianggap PKI”, yang tidak semuanya
melalui proses pengadilan dengan jumlah yang relatif banyak.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates